Unforgettable Moments

    Momen yang tak akan pernah kulupakan, apa itu? Rasanya tidak adil hanya mengambil secuil peristiwa dari hidupku sebagai momen yang akan terus aku kenang. Setelah merenung, melihat kembali berbagai peristiwa yang terjadi, aku tersadar bahwa momen yang tak terlupakan bagiku bukan sebuah momen ‘wah’ ketika aku mencapai sesuatu atau lainnya.

    Sederhana namun tak tergantikan. Aku tidak akan pernah lupa dengan semua momen bersama ibuku. Ya, sesederhana itu. Momen ketika: sepulang sekolah disambut di teras rumah dengan pertanyaan, “Makan apa tadi?”; jalan berdua ke pusat kota basa-basi tentang kehidupan saat di mana aku bertanya, “Kalo nda juara, nda apa-apa ‘kan ma?”; ibu bisa menemaniku ke mana aku butuh untuk pergi dan aku selalu ingin bersama dia, bahkan ada yang berkata bahwa aku seperti perangko yang selalu menempel pada ibuku;  aku membagikan cerita yang menyakitkan hatiku;  aku hampir setiap hari membangunkannya di tengah malam hanya untuk menemaniku tidur di waktu aku sakit; dan lainnya.

    Semua momen itu selalu layak menempati memoriku. Sederhana, bukan? Memang benar, sederhana. Tapi, tetap saja semua ini begitu bermakna bagiku dan mungkin saja bagimu. Momen-momen yang sangat berharga ini kunikmati setiap saat hingga akhirnya itu semua mulai perlahan-lahan hilang.

    Semua dimulai saat kesehatan ibuku terganggu. Kemampuannya melihat pun terus memburuk hingga kini hanya gelap yang bisa ia lihat. Bersamaan dengan itu, aku yang baru saja merayakan sweet seventeen kala itu semakin dituntut untuk menjadi pribadi yang dewasa. Tidak ada lagi jalan-jalan ke pusat kota dan singgah untuk makan tinutuan sambil memandang langit sore yang menenangkan hati. Tidak bisa lagi ibu menemaniku ke mana aku butuh untuk pergi. Aku pun tidak bisa lagi menceritakan sakit hatiku kepada ibu. Aku harus mulai menahan cerita-cerita menyakitkan yang sangat ingin kuceritakan padanya, karena yang kutahu semua itu hanya akan membuat dia khawatir dan membuat raganya semakin lemah. Saat itu aku hanya bisa bernyanyi untuk menghiburnya.

    Diriku ini mungkin terlihat egois. Ya, seringkali aku berpikir begitu. Pada akhirnya aku memandang bahwa semua yang terjadi membuatku bertumbuh. Itu tidak hanya akan menjadi momen yang membuatku mengeluh akan hidup. Momen-momen itu sudah seharusnya aku nikmati sebagai bagian dari hidup yang membuatku mengerti sebagian kecil ilmu dari kehidupan.  

    Saat itu memang dunia terasa meredup dan harapanku perlahan pudar. Namun, Sang Pencipta terus menerangi hatiku dan membuatku belajar bertumbuh. Kadang aku tidak dapat menahan emosi menghadapi sulitnya beradaptasi dengan keadaan itu. Tentu sangat sulit bagiku, tapi bagaimana dengan ibuku atau mereka dengan keadaan yang lebih sulit dari itu? Bersyukur menjadi pelajaran yang sangat penting. Jangan salah. Sampai saat ini, aku masih terus belajar menghadapi pergumulan-pergumulan itu.

    Bagaimana dengan kamu? 

 

    Untuk semua ibu di dunia ini :D, ini Lagu Untukmu (Raisa) 💖



Comments

Popular Posts