Sumber Air Bersih dan Kasus ISPA di Sitaro, Ada Hubungannya?
Kesehatan merupakan aspek penting yang harus
dijaga setiap individu agar dapat mengerjakan segala aktivitas dengan maksimal.
Kehidupan masyarakat yang sehat pun menjadi tujuan bersama yang termuat dalam
tujuan ketiga Sustainable Development Goals, yaitu kehidupan yang sehat
dan sejahtera. Kondisi kesehatan tentu didukung dengan lingkungan perumahan,
termasuk bagaimana akses rumah tangga kepada sumber air minum yang bersih. Kondisi
lingkungan rumah yang tidak mendukung dapat saja menimbulkan penyakit ditambah
lagi ketika ada fenomena-fenomena alam.
Sumber:
sdgs.un.org
Berdasarkan data dari BPS Sulawesi
Utara, pada tahun 2018 dan 2020 hingga 2021, persentase rumah tangga dengan
sumber air minum bersih Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, dikenal dengan
Sitaro, selalu menempati posisi paling bawah. Di tahun 2022 sendiri, hanya terdapat
41,89% rumah tangga di Sitaro dengan sumber air minum bersih. Sementara itu, menurut
publikasi Statistik
Daerah Kabupaten Sitaro 2022, 32,25% masyarakat masih menggunakan air
hujan sebagai sumber air utama yang digunakan untuk mandi, mencuci, dan
lainnya. Penggunaan sumber air yang kurang baik dapat saja mengganggu kualitas kesehatan
seseorang.
Sumber: bps.go.id
Laporan Riskesdas
untuk Provinsi Sulawesi Utara pada 2018 menempatkan Kabupaten Sitaro di urutan
pertama kabupaten/kota dengan prevalensi ISPA pada balita tertinggi, yakni
12,98%. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding angka provinsi yang hanya sebesar
2,99%. Musim kemarau panjang yang menimbulkan kekeringan serta perubahan cuaca
pada 2018 lalu menjadi salah satu indikasi penyebab tinggi kasus ISPA di Sitaro
(Media
Sulut, 2018).
Tak sampai di situ, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sitaro menyebutkan bahwa dari tahun 2021 hingga 2022, ISPA dan hipertensi menjadi dua penyakit paling menonjol kabupaten kepulauan ini (Hermanses, 2022). Pada Januari hingga Agustus 2022 tercatat ada 2312 kasus ISPA sehingga penyakit ini menempati posisi pertama untuk penyakit menonjol pada periode tersebut (Hermanses, 2022). Tingginya kasus ISPA di Sitaro ini didapati beriringan dengan rendahnya persentase rumah tangga dengan sumber air minum bersih yang terus menurun sejak tahun 2018.
Kondisi kebersihan, termasuk pada kasus ini ialah sumber air, dapat saja menjadi sarana penularan penyakit menular, seperti ISPA. Oleh karena itu, fasilitas untuk mengakses sumber air, baik untuk minum ataupun kebutuhan lainnya harus dipastikan terjamin kelayakannya sehingga penyakit-penyakit menular, termasuk ISPA, dapat tercegah.
Referensi
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang
Biaro. (2022). Statistik Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.
Hermanses, O. (2022). Selang
2021-2022, Hipertensi dan ISPA jadi Penyakit Paling Menonjol di Sitaro Sulawesi
Utara.
https://manado.tribunnews.com/2022/10/03/selang-2021-2022-hipertensi-dan-ispa-jadi-penyakit-paling-menonjol-di-sitaro-sulawesi-utara
Pasien ISPA di Sitaro
Meningkat. (2018).
https://mediasulut.co/berita-145-pasien-ispa-di-sitaro-meningkat-.html
Tim Riset Kesehatan Dasar
Provinsi Sulawesi Utara 2018. (2019). Laporan Provinsi Sulawesi Utara
Riskesdas 2018. Badan Penelititan dan Pengembangan Kesehatan.



Comments
Post a Comment